A life

Pengingat.

Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam, Pemilik segala yang hidup dan mati, Dzat yang dengan kasih sayangNya masih mengizinkan aku menghirup udara dan bernafas, Dia Pemilik Arsy yang Maha Mengampuni segala khilaf dan Maha Penerima taubat. Semoga esok masih diberikan nikmat dan rezeki seperti saat ini, dilebihkan Insya Allah.

Kembali aku diingatkan oleh banyaknya kejadian hidup yang terjadi. Dengan sakit, Allah ingatkan betapa Dia Maha Hebat dan bisa mengubah segalanya hanya dalam sekejap. Yang kemarin terlihat sehat wal’afiat, hari ini bisa saja sudah tergeletak tak berdaya di atas tempat tidur. Sebaliknya, yang kemarin merasa sangat sakit dan tak berdaya, hari ini atas ijinNya mampu berkegiatan seperti sedia kala.

Dengan resah, Allah ingatkan betapa hanya kepadaNya aku harus mengadu dan menceritakan segalanya. Mesin pencari Google, jurnal, maupun buku tidak akan cukup menghilangkan resah yang berasal dari nurani. Membaca buku dan sumber lainnya hanyalah sebentuk usaha. Tetap, setiap daya diserahkan kepadaNya. Berdoa sambil berusaha, bukan berusaha lalu berdoa. Karena doa akan tetap dipanjatkan, sekalipun belum dikabulkan, hingga napas terakhir dihembuskan. Begitu doa dikabulkan, akan terus ada doa-doa selanjutnya yang menyertai. Dia tunjukkan betapa Ia sangat dekat, lebih dekat dari nadi. Dia tunjukkan betapa Ia sangat sayang, melebihi sayangnya seorang Ibu yang rela mempertaruhkan nyawa demi sang buah hati.

Mohon ampun atas segala dosa, mohon ampun akan diri yang terlalu banyak berharap dan berdoa padahal masih bergelimang dosa. Mohon ampun atas niat yang melenceng dari perbuatan, yang seakan soleh di hadapan manusia namun ingkar di hadapan Sang Khalik. Astaghfirullahaladzim.

Mohon ampun atas perbuatan riya, sombong, ujub dan segala jenisnya. Mohon ampun untuk setiap unggahan media sosial yang bisa saja menimbulkan dengki maupun iri, bahkan gunjingan. Bahkan dengan hanya melihat timeline media sosial, hati ini akan selalu mengomentari dengan komentar pedas. Astaghfirullahaladzim.

Kembali diingatkan dengan rasa bahagia yang semestinya sewajarnya, karena Dia tidak ingin dilupakan. Jangan terlalu bahagia, nurani berkata. Tapi entahlah, terbuat dari apa hati ini. Malahan menunda panggilanNya dan tetap bersuka ria, dengan dalih sedang bahagia. Hati yang seharusnya selalu mengingat dan selalu butuh, Dia hanya Pencipta, tanpa hati yang berdoa dan memuji pun Dia masih menjadi Pemilik Segala, Dzat yang Esa. Astaghfirullahaladzim.

Tulisan ini dibuat pada 4 Ramadhan 1438 H, semoga menjadi pengingat diri. Aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s